FANTASI
ARI DAN DELIMA PERAK
By. Khuria
SINOPSIS
Ari (12 tahun) anak pemalas yang tidak pernah membantu orang tuanya dan kesehariannya setiap pulang sekolah hanya bermain saja bersama teman-temannya, Dani, Rama dan Ical. Kebiasaan mereka adalah mencuri buah-buahan milik Pak Samir yang berada di desa seberang sungai.
Sampai suatu ketika Ari dan ketiga temannya berniat mencuri buah-buahan di kebun Pak Samir yang tengah berbuah. Kebunnya terletak di belakang rumah Pak Samir. Dani mengendap-ngendap dari belakang rumah untuk memastikan ada penghuninya tidak di dalam rumah dan ternyata rumah kosong. Mereka beramai-ramai dan berpesta pora menikmatinya. Dani, Rama dan Ical asyik memanjati pohon dan menikmati buah-buahan, sedangkan Ari berjalan-jalan sendiri hingga ke ujung kebun sampai temannya. Ari seperti melihat sesuatu yang menyala-nyala dari salah satu pohon di ujung kebun, Ari menggumam sambil melangkah ke arah pohon tersebut. Anehnya warna buah tersebut berwarna perak dan hanya ada satu buah di pohon tersebut. Saking penasarannya Aripun memetik dan memakannya dan sedikit bersembunyi agar tidak diketahui teman-temannya. Aripun mencicipinya…..manis sekali.
Tiba-tiba dari belakang Pak Samir langsung mengambil buah yang dimakan Ari yang tinggal setengah, Ari kaget sekali. Habis-habisan Ari dimarahi Pak Samir dan tak beberapa lama kemudian awan mendung disertai petir menyambar-nyambar, angin berhembus kencang, seluruh tanaman buah-buahan di kebun Pak Samir layu dan kering kerontang serta buah-buahanpun membusuk termasuk tanaman dari buah perak yang Ari makan dan penduduk di desa yang Ari tinggali seketika terserang penyakit yang aneh. Pak Samir amat sangat ketakutan dan sudah mengira bahwa hal ini akan terjadi. Karena buah yang Ari makan adalah delima perak yang dititipkan raja dahulu kepada Pak Samir ketika menjadi pengikut setia raja waktu itu.
Pak Samir membawa Ari ke desa Ari sendiri, Ari kaget sekali terus menangis karena kedua orang tuanya dan orang-orang tergeletak dan terserang penyakit sangat aneh, seluruh tubuh mereka berwarna perak persis buah delima perak yang Ari makan.
Pak Samir teringat akan pesan raja apabila ada yang memakan buah delima perak tersebut yang tersisa satu tanpa ijin, jalan satu-satunya adalah dengan mengambil satu biji delima perak yang tersimpan didalam gua Laras yang berada di balik bukit dari arah desa Ari dan dihuni oleh lima peri raksasa yang merupakan putri raja yang angkuh yang penyesalannya terlambat dan akhirnya dikutuk menjadi peri karena telah memakan delima perak tanpa ijin yang juga tersisa satu. Maka yang harus mengambil biji delima tersebut adalah yang memakan buah delima perak yaitu Ari. Tadinya Ari tak sanggup dan takut akan tugas ini tapi Pak samir terus memaksanya dan akhirnya bersedia karena tak ingin kedua orang tuanya sakit serta rasa tanggungjwab yang harus ia lakukan.
Sore itu juga Ari berangkat dan oleh Pak Samir dibekali buah delima perak yang Ari makan yang masih tersisa untuk melinndunginya selama perjalanan menuju gua Laras apabila terjadi sesuatu yang menghambatnya.
Sepanjang perjalanan Ari terus mencari tahu keberadaan gua itu. Setiap orang yang ia temui ia tanyakan. Kepada setiap orang yang ia tolong disepanjang perjalananpun ia tanyakan keberadaan gua tersebut. Sampai akhirnya Aripun temukan gua Laras itu, dengan ketakutan Ari memasuki gua itu. Di dalam gua Ari melihat biji delima perak tersebut tergeletak dan ketika Ari perlahan hendak mengambilnya, tiba-tiba dari arah depan kelima peri raksasa itu langsung menyerbunya. Dengan ketakutan, spontan kedua tangan Ari diarahkan ke kelima peri raksasa itu dengan memegangi sisa buah delima perak menyala-nyala. Kelima peri raksasa terlepmpar seketika karena dahsyatnya sinar yang muncul dari delima perak itu dan anehnya mereka memohon-mohon ampun kepada Ari agar tidak membunuhnya dengan buah tersebut dan apapun yang Ari minta akan dikabulkan oleh mereka. Aripun meminta sebuah biji delima perak itu dan menceritakan tujuannya mengambil biji tersebut. Kelima peri raksasa itu langsung memberikan satu biji delima perak itu dan berpesan sama seperti yang disampaikan raja kepada Pak Samir dahulu yaitu agar menanamnya kembali dan menjaganya dari tangan-tangan orang jahat. Karena hanya orang-orang yang memiliki keberanian dan ketulusan hati menolong sesama yang bisa mengambil biji delima perak. Aripun berterima kasih kepada kelima peri raksasa dan beranjak pergi untuk kembali ke desanya.
Ari tidak langsung ke rumah tetapi menemui Pak Samir untuk memberikan biji delima perak yang sudah Ari dapatkan. Pak Samir langsung meletakkan biji itu didalam pot yang sudah Pak Samir siapkan sebelum Ari kembali dari gua Laras itu dan tak lagi di luar rumah tetapi didalam rumah Pak Samir sendiri agar tidak lagi ada yang mencuri buah delima perak tersebut dan malapetaka tidak terjadi lagi. Ajaib………..biji delima perak langsung berubah menjadi pohon delima yang berbuah lebat dan ajaibnya lagi buahnya tidak hanya berwarna perak tetapi menjadi lima warna; perak tentunya, emas, merah, hijau dan putih sesuai dengan kelima peri raksasa yang ia temui di dalam gua Laras.
Kemudian Pak Samir memetik satu buah delima yang berwarna perak, lalu beberapa isinya ia sebarkan di kebunnya, seketika tanaman buah-buahan yang tadinya layu kian kembali seperti semula. Dan diberikan kepada tiap penduduk yang terserang penyakit aneh di desa tempat tinggal Ari untuk dimakan, seketika penyakitnya hilang dan sembuh. Ari sangat senang dan tak lagi mencuri buah-buahan di kebunnya Pak Samir.
Kamis, Maret 25, 2010
Jumat, Maret 19, 2010
SINOPSIS
FTV FANTASI ANAK
LEGENDA KALIBAKUNG
By. YS. Khuria Sa’adah
SINOPSIS
Biang (14 th),Ciut (13 th), Ucil (11 th), Lunar (13 th), dan Gendis (12 th). Biang yang tertua sebagai bosnya (dalam pola pikir anak-anak). Pada suatu ketika mereka ingin sekali memancing tetapi tidak tahu dimana tempat yang banyak ikannya…..cling!!!! Ciut menemukan sebuah tempat yang banyak ikannya yaitu disebuah sungai tanpa nama tetapi kata warga sekitar sungai tersebut sangat menyeramkan dan konon dihuni oleh seekor ular raksasa. Tapi Biang dan teman lainnya menertawakan Ciut, mereka tetap nekad untuk pergi memancing bahkan mereka semakin penasaran akan sungai tersebut.
Ketika memancing sebagian dari mereka mendengar suara perempuan sedang menangis dan arahnya terdengar dari semak-semak. Mereka sedikit ketakutan tetapi mencoba mendekat suara itu. Mereka terkejut, yang mereka lihat adalah seekor ular yang amat besar berwarna merah jambu, mereka langsung lari berhamburan karena ketakutan. Tapi ular itu sengaja membuat mereka tersandung oleh ekornya sehingga mereka semua terjatuh, ular itu bermaksud meminta pertolongan untuk mengembalikan kutukannya sebagai agar menjadi manusia kembali. Ular itupun menceritakan bahwa dulunya ia adalah seorang putri bernama putri Sutra yang mencintai seorang pemuda pengelana bernama Suta. Namun, hubungan mereka tidak disukai oleh kakaknya putri Selenda yang kemudian meminta dukun tua jahat bernama Ki Gledeg untuk mengutuk mereka menjadi ular raksasa yang berganti menjadi nama Sarasutra dari putri Sutra dan Sarasuta dari pemuda pengelana bernama Suta. Putri Selenda sengaja mengubah nama mereka agar tidak diketahui oleh siapapun termasuk seluruh keluarga kerajaan. Kutukan itu tidak akan membuat mereka menjadi manusia seutuhnya tetapi setengah ular yang menjadi penunggu sungai tersebut yang dulunya sebagai sumber untuk kehidupan di negeri Bakung dan penduduk kerajaan menamai sungai itu Kalibakung.
Sarasutra ingin Biang dan teman-temannya membantu menyelamatkan kekasihnya Sarasuta yang dikutuk menjadi ular tetapi diperbudak oleh Ki Gledeg. Ki Gledeg tinggal di gua yang dikelilingi oleh hutan rimba dan dijaga oleh beberapa binatang buas yang dikutuk ki Gledeg yang dulunya manusia. Mau tidak mau mereka harus membantu Sarasutra menyelamatkan Sarasuta dengan cara mendatangi rumah dukun itu. Sarasutra memberikan kalung berliontin batu temunggul ungu untuk menjaga mereka.
Merekapun mencari keberadaan hutan itu berada hingga berhari-hari sampai akhirnya ditemukan. Ki Gledeg tidak mengetahui kedatangan Biang dan teman-teman karena sedang meninggalkan gua. Mereka melihat gua itu dikelilingi oleh seekor ular raksasa, mereka yakin itu adalah Sarasuta. Mereka mendekati ular itu dan menceritakan tujuan mereka. Sekembalinya Ki Gledeg, ia marah dan tak mengijinkan membawa pergi Sarasuta. Ki Gledeg dan Sarasuta bertarung, tetapi ditengah pertarungan Sarasuta kalah dan nyaris terkena semburan mematikan dari tongkat sakti Ki Gledeg tetapi berkat pertolongan liontin batu temunggul yang Biang lemparkan kearah semburan.....seketika semburan terserap ke batu temunggul ungu dan seketika hancur berkeping-keping. Mereka berlari meninggalkan hutan terkutuk itu, Ki Gledeg tak sanggup mengejar Biang dan teman-temannya dengan kondisi tubuh yang tiba-tiba melemas karena seluruh kesaktiannya terkuras habis melalui semburan yang telah terserap oleh batu temunggul yang telah hancur.
Tiba di sungai, Sarasuta bahagia akhirnya kembali bersatu dengan kekasihnya Surasutra berkat keberhasilan Biang, Ciut, Ucil, Lunar dan Gendis dalam menyelamatkannya. Sedangkan mereka tidak ada yang tahu nasib putri Selenda saat ini yang sebenarnya juga dikutuk menjadi binatang buas dihutan rimba karena tidak mampu memenuhi janji dari Ki Gledeg dahulu. Walau mereka setengah manusia setengah ular tetap bahagia dan akan menjaga sungai tersebut selama-lamanya serta diperbolehkan memancing, mengambil air dan lain-lain bagi orang-orang tertentu saja yang berniat baik.
Biang dan teman-temannya mengembalikan nama sungai itu yang sekarang tak bernama menjadi Kalibakung, kali berarti sungai dan bakung nama negeri Bakung agar Sarasutra teringat akan negerinya.
Sepasang kekasih bahagia dan warga setempatpun tak takut lagi untuk mengambil air dan memancing di Kalibakung tersebut begitu juga Biang dan teman-temannya.
LEGENDA KALIBAKUNG
By. YS. Khuria Sa’adah
SINOPSIS
Biang (14 th),Ciut (13 th), Ucil (11 th), Lunar (13 th), dan Gendis (12 th). Biang yang tertua sebagai bosnya (dalam pola pikir anak-anak). Pada suatu ketika mereka ingin sekali memancing tetapi tidak tahu dimana tempat yang banyak ikannya…..cling!!!! Ciut menemukan sebuah tempat yang banyak ikannya yaitu disebuah sungai tanpa nama tetapi kata warga sekitar sungai tersebut sangat menyeramkan dan konon dihuni oleh seekor ular raksasa. Tapi Biang dan teman lainnya menertawakan Ciut, mereka tetap nekad untuk pergi memancing bahkan mereka semakin penasaran akan sungai tersebut.
Ketika memancing sebagian dari mereka mendengar suara perempuan sedang menangis dan arahnya terdengar dari semak-semak. Mereka sedikit ketakutan tetapi mencoba mendekat suara itu. Mereka terkejut, yang mereka lihat adalah seekor ular yang amat besar berwarna merah jambu, mereka langsung lari berhamburan karena ketakutan. Tapi ular itu sengaja membuat mereka tersandung oleh ekornya sehingga mereka semua terjatuh, ular itu bermaksud meminta pertolongan untuk mengembalikan kutukannya sebagai agar menjadi manusia kembali. Ular itupun menceritakan bahwa dulunya ia adalah seorang putri bernama putri Sutra yang mencintai seorang pemuda pengelana bernama Suta. Namun, hubungan mereka tidak disukai oleh kakaknya putri Selenda yang kemudian meminta dukun tua jahat bernama Ki Gledeg untuk mengutuk mereka menjadi ular raksasa yang berganti menjadi nama Sarasutra dari putri Sutra dan Sarasuta dari pemuda pengelana bernama Suta. Putri Selenda sengaja mengubah nama mereka agar tidak diketahui oleh siapapun termasuk seluruh keluarga kerajaan. Kutukan itu tidak akan membuat mereka menjadi manusia seutuhnya tetapi setengah ular yang menjadi penunggu sungai tersebut yang dulunya sebagai sumber untuk kehidupan di negeri Bakung dan penduduk kerajaan menamai sungai itu Kalibakung.
Sarasutra ingin Biang dan teman-temannya membantu menyelamatkan kekasihnya Sarasuta yang dikutuk menjadi ular tetapi diperbudak oleh Ki Gledeg. Ki Gledeg tinggal di gua yang dikelilingi oleh hutan rimba dan dijaga oleh beberapa binatang buas yang dikutuk ki Gledeg yang dulunya manusia. Mau tidak mau mereka harus membantu Sarasutra menyelamatkan Sarasuta dengan cara mendatangi rumah dukun itu. Sarasutra memberikan kalung berliontin batu temunggul ungu untuk menjaga mereka.
Merekapun mencari keberadaan hutan itu berada hingga berhari-hari sampai akhirnya ditemukan. Ki Gledeg tidak mengetahui kedatangan Biang dan teman-teman karena sedang meninggalkan gua. Mereka melihat gua itu dikelilingi oleh seekor ular raksasa, mereka yakin itu adalah Sarasuta. Mereka mendekati ular itu dan menceritakan tujuan mereka. Sekembalinya Ki Gledeg, ia marah dan tak mengijinkan membawa pergi Sarasuta. Ki Gledeg dan Sarasuta bertarung, tetapi ditengah pertarungan Sarasuta kalah dan nyaris terkena semburan mematikan dari tongkat sakti Ki Gledeg tetapi berkat pertolongan liontin batu temunggul yang Biang lemparkan kearah semburan.....seketika semburan terserap ke batu temunggul ungu dan seketika hancur berkeping-keping. Mereka berlari meninggalkan hutan terkutuk itu, Ki Gledeg tak sanggup mengejar Biang dan teman-temannya dengan kondisi tubuh yang tiba-tiba melemas karena seluruh kesaktiannya terkuras habis melalui semburan yang telah terserap oleh batu temunggul yang telah hancur.
Tiba di sungai, Sarasuta bahagia akhirnya kembali bersatu dengan kekasihnya Surasutra berkat keberhasilan Biang, Ciut, Ucil, Lunar dan Gendis dalam menyelamatkannya. Sedangkan mereka tidak ada yang tahu nasib putri Selenda saat ini yang sebenarnya juga dikutuk menjadi binatang buas dihutan rimba karena tidak mampu memenuhi janji dari Ki Gledeg dahulu. Walau mereka setengah manusia setengah ular tetap bahagia dan akan menjaga sungai tersebut selama-lamanya serta diperbolehkan memancing, mengambil air dan lain-lain bagi orang-orang tertentu saja yang berniat baik.
Biang dan teman-temannya mengembalikan nama sungai itu yang sekarang tak bernama menjadi Kalibakung, kali berarti sungai dan bakung nama negeri Bakung agar Sarasutra teringat akan negerinya.
Sepasang kekasih bahagia dan warga setempatpun tak takut lagi untuk mengambil air dan memancing di Kalibakung tersebut begitu juga Biang dan teman-temannya.
Desember 2009
Untuk
Seluruh ketidakpastian mengguncangku bertubi-tubi
Diantara sekian banyaknya duri-duri kecil nun remuncing
Seluruh ketidakpastian menyelinap disela-sela pikiran
Yang terselubungi oleh satu masalah
Hingga masih bergelantungan
Dalam saraf-saraf kebohongan
Yach,
Saat ini kumerasakan iri yang memuncak
Pada satu rangkaian cerita yang ia torehkan
Bersama merpati yang kini tengah kau kejar
Yang sesungguhnya ku tak meratapinya
Cerita itu sempat menudingku
Bahwa akulah satu penghalangnya!
Ooh ya ampun
Kenapa aku alami hal seperti ini
Tak pernah kulalui sebelumnya
Kesulitan meneriakkan
Ketakutan di lubang kedua telingaku
Aku harus jauh dari singgasana bermasalah ini
(1812’08)
Lepaz
Tenanglah
Aku kan segera jauh
Dan berlari sekencang-kencang badai yang mengejarku
Hingga kau dapati kebahagiaan bersamanya
Yang masih menjadi sisi pelengkap bahagiaku
Yang kini harus aku lepaskan sisi kebahagiaanku itu
Karena tak mungkin lagi sanggup aku genggam erat
Dan takkan pantas untuk aku miliki sama sekali
Sungguh memalukannya diriku kini
Bagai pasir yang melekat
Di tiap jari-jemari
Lalu….hempaskan!!!!!
Dan…..terhempas!!!!!
Tenanglah
Aku kan segera lenyapkan diri ini
Dari sisa-sisa kehidupan asmara
Yang sempat dan masih saja menggoyahkan sebelah hidupku
Aaaaaaaaaaaa………………………….aaaaa!!!!!!!!
Ombak
Rapatkan tatapan ke arah datangnya alunan ombak berdebur
Diringi kelembutan angin yang kian bisiki telinga
Entahlah apa yang angin bisikan padaku
Namun, yang kurasa hanyalah……………
Uuuuuuuuh sungguh geli
Sendiri melepaskan pandangan
Tak kulepaskan pencurian pandangku
Pada burung camar yang tengah asyik
Bermain sayap
Membersihkan sayap
Menyibakkan sayap
Bermain ala burung-burunga camar
Hmmmmmmm……..
Dan kuterpesona
Lepaslah penatku
Jauhlah setengah problema
Hari Ini
Siang ini kujelang
Sepi,
Hanya musik-musik yang memenuhi seisi telinga
Siang ini
Sore akan segera hadir
Masih saja sepi,
Tak kulihat teriakan bocah
Yang biasanya setiap sore
Tak lepas dari teriakan mereka
Siang ini
Sore telah bersamaku
Yach, masih sepi
Seperti sebelumnya
Tak kudengar apapun
Hanya musik-musik
Yang berkumpul di telinga
Siang ini
Sore semakin berlalu
Sungguh masih sepi
Hanya musik-musik
Yang enggan jauh dari telinga
Kan tetap temaniku
Berdua bersama mesin ketik
Komputer ini.
(2905’09)
Asmaraku
Jauh sekali kumelangkah
Tapi enggan kuberhenti
Sepi,
Gelap,
Sepanjang langkahku
Tapi tak ada satupun yang memberiku seteguk air
Tuk lepaskan dahagaku dari langkah jauh
Yang ada mereka hanya menatapku terus
Membiarkanku menahan siksa diri
Masih sejauh inikah langkahku
Kenapa tak izinkanku tuk lepas letihku?
Melangkah seorang diri
Memang hampa
Lelah seorang diri
Memang menyiksa
(2207’09)
Maghrib
Senja berkabut
Selaksa kehampaan mengunci keheningan malam
Berkumandang irama adzan berseri-seri
Memberikan sambutan umat nun merdu
Senja tinggal sekerat daging
Namun menyisakan seutas peristiwa panjang
Telah dilewati bersama ribuan burung tiada mampir menilik satupun
Teriakan senja kian tak terdengar
Maghrib menggantikan hanyutnya sore tadi
Awan berlalu mengiringi senja
Beriringan sang bintang
Bulan mendampinginya
(2307’09)
Seluruh ketidakpastian mengguncangku bertubi-tubi
Diantara sekian banyaknya duri-duri kecil nun remuncing
Seluruh ketidakpastian menyelinap disela-sela pikiran
Yang terselubungi oleh satu masalah
Hingga masih bergelantungan
Dalam saraf-saraf kebohongan
Yach,
Saat ini kumerasakan iri yang memuncak
Pada satu rangkaian cerita yang ia torehkan
Bersama merpati yang kini tengah kau kejar
Yang sesungguhnya ku tak meratapinya
Cerita itu sempat menudingku
Bahwa akulah satu penghalangnya!
Ooh ya ampun
Kenapa aku alami hal seperti ini
Tak pernah kulalui sebelumnya
Kesulitan meneriakkan
Ketakutan di lubang kedua telingaku
Aku harus jauh dari singgasana bermasalah ini
(1812’08)
Lepaz
Tenanglah
Aku kan segera jauh
Dan berlari sekencang-kencang badai yang mengejarku
Hingga kau dapati kebahagiaan bersamanya
Yang masih menjadi sisi pelengkap bahagiaku
Yang kini harus aku lepaskan sisi kebahagiaanku itu
Karena tak mungkin lagi sanggup aku genggam erat
Dan takkan pantas untuk aku miliki sama sekali
Sungguh memalukannya diriku kini
Bagai pasir yang melekat
Di tiap jari-jemari
Lalu….hempaskan!!!!!
Dan…..terhempas!!!!!
Tenanglah
Aku kan segera lenyapkan diri ini
Dari sisa-sisa kehidupan asmara
Yang sempat dan masih saja menggoyahkan sebelah hidupku
Aaaaaaaaaaaa………………………….aaaaa!!!!!!!!
Ombak
Rapatkan tatapan ke arah datangnya alunan ombak berdebur
Diringi kelembutan angin yang kian bisiki telinga
Entahlah apa yang angin bisikan padaku
Namun, yang kurasa hanyalah……………
Uuuuuuuuh sungguh geli
Sendiri melepaskan pandangan
Tak kulepaskan pencurian pandangku
Pada burung camar yang tengah asyik
Bermain sayap
Membersihkan sayap
Menyibakkan sayap
Bermain ala burung-burunga camar
Hmmmmmmm……..
Dan kuterpesona
Lepaslah penatku
Jauhlah setengah problema
Hari Ini
Siang ini kujelang
Sepi,
Hanya musik-musik yang memenuhi seisi telinga
Siang ini
Sore akan segera hadir
Masih saja sepi,
Tak kulihat teriakan bocah
Yang biasanya setiap sore
Tak lepas dari teriakan mereka
Siang ini
Sore telah bersamaku
Yach, masih sepi
Seperti sebelumnya
Tak kudengar apapun
Hanya musik-musik
Yang berkumpul di telinga
Siang ini
Sore semakin berlalu
Sungguh masih sepi
Hanya musik-musik
Yang enggan jauh dari telinga
Kan tetap temaniku
Berdua bersama mesin ketik
Komputer ini.
(2905’09)
Asmaraku
Jauh sekali kumelangkah
Tapi enggan kuberhenti
Sepi,
Gelap,
Sepanjang langkahku
Tapi tak ada satupun yang memberiku seteguk air
Tuk lepaskan dahagaku dari langkah jauh
Yang ada mereka hanya menatapku terus
Membiarkanku menahan siksa diri
Masih sejauh inikah langkahku
Kenapa tak izinkanku tuk lepas letihku?
Melangkah seorang diri
Memang hampa
Lelah seorang diri
Memang menyiksa
(2207’09)
Maghrib
Senja berkabut
Selaksa kehampaan mengunci keheningan malam
Berkumandang irama adzan berseri-seri
Memberikan sambutan umat nun merdu
Senja tinggal sekerat daging
Namun menyisakan seutas peristiwa panjang
Telah dilewati bersama ribuan burung tiada mampir menilik satupun
Teriakan senja kian tak terdengar
Maghrib menggantikan hanyutnya sore tadi
Awan berlalu mengiringi senja
Beriringan sang bintang
Bulan mendampinginya
(2307’09)
rINDU?????Bohong!!!!!
Gelagat cintamengiringi ayunan langkah kaki.
Hentakan kaki namun tak bersuara, hanya ada rasa yang menggetarkan seluruh tubuh.
Keceriaan meneriakkan rasa sedih yang telah berlalu.
Kerinduan menyembunyikan isak tangis dan air mata.
Beranda hati tak lagi ada yang hendak menghampiri walau sekedar bersinggah sejenak.
Kesunyian meninggalkan kedamaian di pojokan rumah.
Pelita malam bersembunyi dibalik gubuk kosong, tetapi menyeruakkan aroma semerbak melati dan udara nan semejuk.
Gundukan pasir berdebu kmian terkikis angin yang berlari dengan waktu, mengejar masa yang akan datang.
Penantian pada penguasa cinta mulai berjalan perlahan seiring detak jantung yang seirama dengan bibir yang berucap.
Berjongkok menepuk-nepukkan tangan, menanti tengah di dermaga ujung penantian.
Hamparan kerinduan siap menyerang kalbu demi sesuap cinta.
Satu kesedihan mendorong air mata yang enggan menitikkan jua. Bahagialah aku.
Haus akan ketenangan hati menerortiada menduga.
Mengunjungi dermaga, kini kosong tiada aroma semerbak, namun menjelma bangkai yang tak terpikirkan.
Senyum ceria berhaluan menjadi renungan yang tidak dan takkan pernah berujung.
Kesendirian menyudutkan menjadi bayang-bayang semu.
Hentakan kaki namun tak bersuara, hanya ada rasa yang menggetarkan seluruh tubuh.
Keceriaan meneriakkan rasa sedih yang telah berlalu.
Kerinduan menyembunyikan isak tangis dan air mata.
Beranda hati tak lagi ada yang hendak menghampiri walau sekedar bersinggah sejenak.
Kesunyian meninggalkan kedamaian di pojokan rumah.
Pelita malam bersembunyi dibalik gubuk kosong, tetapi menyeruakkan aroma semerbak melati dan udara nan semejuk.
Gundukan pasir berdebu kmian terkikis angin yang berlari dengan waktu, mengejar masa yang akan datang.
Penantian pada penguasa cinta mulai berjalan perlahan seiring detak jantung yang seirama dengan bibir yang berucap.
Berjongkok menepuk-nepukkan tangan, menanti tengah di dermaga ujung penantian.
Hamparan kerinduan siap menyerang kalbu demi sesuap cinta.
Satu kesedihan mendorong air mata yang enggan menitikkan jua. Bahagialah aku.
Haus akan ketenangan hati menerortiada menduga.
Mengunjungi dermaga, kini kosong tiada aroma semerbak, namun menjelma bangkai yang tak terpikirkan.
Senyum ceria berhaluan menjadi renungan yang tidak dan takkan pernah berujung.
Kesendirian menyudutkan menjadi bayang-bayang semu.
21 05 '07
Kamis, Maret 11, 2010
Mematahkan Kerinduan
Yach, t'lah berulangkali kuhendak mencoba terlepas dari hawa kerinduan yang seringkali buatku menggigil tak menentu.
Batinku meronta-ronta tak keruan, menyaksikan beban rindu yang selalu menyesakkan dada.
Inginku pungut secuil kerinduan dari benakku, namun
berjuta kerinduan hendak turut serta bersamaku.
Inginku hempaskan rasa rindu itu, tapi
ketakutanku menghantui akan kesia-siaan pada rindu yang terbuang.
Berlari dari kerinduan, pun takkan menyisakan kebahagiaan.
Merampungkan kerinduan, pun takkan ada habisnya.
Berdiam diri membiarkan kerinduan menggerogoti hati, pun malah semakin menggerogoti.
YAH......SEMUA TAKKAN ADA HABISNYA...........!!!!!!!!!!!
Berulangkali kerinduan hadir dan silih berganti, berulangkali pula kumencoba terlepas dari kerinduan itu, berulang-ulang kali pula kutakbisa lepas dari kerinduan itu. KERINDUAN.......KERINDUAN.........KERINDUAN.........mengapa tiada habisnya, mengapa justru menambah berat hati.
Batinku meronta-ronta tak keruan, menyaksikan beban rindu yang selalu menyesakkan dada.
Inginku pungut secuil kerinduan dari benakku, namun
berjuta kerinduan hendak turut serta bersamaku.
Inginku hempaskan rasa rindu itu, tapi
ketakutanku menghantui akan kesia-siaan pada rindu yang terbuang.
Berlari dari kerinduan, pun takkan menyisakan kebahagiaan.
Merampungkan kerinduan, pun takkan ada habisnya.
Berdiam diri membiarkan kerinduan menggerogoti hati, pun malah semakin menggerogoti.
YAH......SEMUA TAKKAN ADA HABISNYA...........!!!!!!!!!!!
Berulangkali kerinduan hadir dan silih berganti, berulangkali pula kumencoba terlepas dari kerinduan itu, berulang-ulang kali pula kutakbisa lepas dari kerinduan itu. KERINDUAN.......KERINDUAN.........KERINDUAN.........mengapa tiada habisnya, mengapa justru menambah berat hati.
Senin, 20 Juli 2008 23:30
Rabu, Maret 10, 2010
3SMA2008
JADIKANLAH EJEKANKU ITU SEBAGAI SEBUAH HIBURAN BUAT TEMEN-TEMENKU UNTUK MENGHIBUR MEREKA.
COBALAH UNTUK TIDAK MARAH YANG BERLEBIH-LEBIH, KARENA ITU AKAN MENJAUHKAN DIRIKU DARI "be your self" YANG SELALU MENDORONGKU UNTUK SEMANGAT DAN JANGAN MENYERAH.
MARAH? MARAHLAH UNTUK DIRIKU SENDIRI, MARAH PADA MEREKA MEMANG SEMPAT TERCIPTA JUGA, MEMANG SUATU KEWAJARAN SEJENAK.
COBALAH UNTUK TIDAK MARAH KEPADA MEREKA, TAPI MARAHILAH DIRIKU SENDIRI.
TATAPLAH DIRIKU SENDIRI, APA YANG SALAH PADA DIRIKU SENDIRI?
APA YANG MENYEBABKAN DIRIKU SENDIRI BEGINI?
APA YANG BERUBAH PADA DIRIKU SENDIRI?
APA YANG HARUS DIRIKU SENDIRI LAKUKAN AGAR TEMEN-TEMEN MENERIMAKU SEUTUHNYA SEBAGAI TEMAN LAYAKNYA TEMAN, BUKAN SEBAGAI EJEKAN BELAKA?
APA YANG HARUS DIRIKU SENDIRI PERBUAT?
COBALAH UNTUK TIDAK MARAH YANG BERLEBIH-LEBIH, KARENA ITU AKAN MENJAUHKAN DIRIKU DARI "be your self" YANG SELALU MENDORONGKU UNTUK SEMANGAT DAN JANGAN MENYERAH.
MARAH? MARAHLAH UNTUK DIRIKU SENDIRI, MARAH PADA MEREKA MEMANG SEMPAT TERCIPTA JUGA, MEMANG SUATU KEWAJARAN SEJENAK.
COBALAH UNTUK TIDAK MARAH KEPADA MEREKA, TAPI MARAHILAH DIRIKU SENDIRI.
TATAPLAH DIRIKU SENDIRI, APA YANG SALAH PADA DIRIKU SENDIRI?
APA YANG MENYEBABKAN DIRIKU SENDIRI BEGINI?
APA YANG BERUBAH PADA DIRIKU SENDIRI?
APA YANG HARUS DIRIKU SENDIRI LAKUKAN AGAR TEMEN-TEMEN MENERIMAKU SEUTUHNYA SEBAGAI TEMAN LAYAKNYA TEMAN, BUKAN SEBAGAI EJEKAN BELAKA?
APA YANG HARUS DIRIKU SENDIRI PERBUAT?
Sajak
SAJAK
01 Maret 2010
Memang keterlambatan tak dapat termaafkan kalaulah berkali-kali terulang. Namun, penyesalan enggan mencabik-cabik dan memarahiku, justru buatku tersenyum ringan, enteng karena satu prosesi di tanggal 28 Februari kemarin tak lagi ku terjerat oleh ikrar janji yang memang serasa terikat, tapi buatku tidak. Disaat yang berdiri mengikat janji " NA'AM! ", sedang diriku berdiri tersenyum dibalik buramnya kaca sebagai persinggahan atau mereka sebut sebagai basecamp........
hahaha.....berterimakasihlah ku pada keterlambatanku waktu itu,,,,,,,ENTENG, itu yang tersirat sepanjang perjalanan pulangku.....
01 Maret 2010
Memang keterlambatan tak dapat termaafkan kalaulah berkali-kali terulang. Namun, penyesalan enggan mencabik-cabik dan memarahiku, justru buatku tersenyum ringan, enteng karena satu prosesi di tanggal 28 Februari kemarin tak lagi ku terjerat oleh ikrar janji yang memang serasa terikat, tapi buatku tidak. Disaat yang berdiri mengikat janji " NA'AM! ", sedang diriku berdiri tersenyum dibalik buramnya kaca sebagai persinggahan atau mereka sebut sebagai basecamp........
hahaha.....berterimakasihlah ku pada keterlambatanku waktu itu,,,,,,,ENTENG, itu yang tersirat sepanjang perjalanan pulangku.....
Langganan:
Komentar (Atom)