Jumat, Maret 19, 2010

Desember 2009

Untuk

Seluruh ketidakpastian mengguncangku bertubi-tubi
Diantara sekian banyaknya duri-duri kecil nun remuncing

Seluruh ketidakpastian menyelinap disela-sela pikiran
Yang terselubungi oleh satu masalah
Hingga masih bergelantungan
Dalam saraf-saraf kebohongan

Yach,
Saat ini kumerasakan iri yang memuncak
Pada satu rangkaian cerita yang ia torehkan
Bersama merpati yang kini tengah kau kejar
Yang sesungguhnya ku tak meratapinya

Cerita itu sempat menudingku
Bahwa akulah satu penghalangnya!

Ooh ya ampun
Kenapa aku alami hal seperti ini
Tak pernah kulalui sebelumnya

Kesulitan meneriakkan
Ketakutan di lubang kedua telingaku

Aku harus jauh dari singgasana bermasalah ini
(1812’08)


Lepaz


Tenanglah
Aku kan segera jauh
Dan berlari sekencang-kencang badai yang mengejarku
Hingga kau dapati kebahagiaan bersamanya
Yang masih menjadi sisi pelengkap bahagiaku
Yang kini harus aku lepaskan sisi kebahagiaanku itu
Karena tak mungkin lagi sanggup aku genggam erat
Dan takkan pantas untuk aku miliki sama sekali

Sungguh memalukannya diriku kini
Bagai pasir yang melekat
Di tiap jari-jemari
Lalu….hempaskan!!!!!
Dan…..terhempas!!!!!

Tenanglah
Aku kan segera lenyapkan diri ini
Dari sisa-sisa kehidupan asmara
Yang sempat dan masih saja menggoyahkan sebelah hidupku

Aaaaaaaaaaaa………………………….aaaaa!!!!!!!!



Ombak


Rapatkan tatapan ke arah datangnya alunan ombak berdebur
Diringi kelembutan angin yang kian bisiki telinga
Entahlah apa yang angin bisikan padaku
Namun, yang kurasa hanyalah……………
Uuuuuuuuh sungguh geli

Sendiri melepaskan pandangan
Tak kulepaskan pencurian pandangku
Pada burung camar yang tengah asyik
Bermain sayap
Membersihkan sayap
Menyibakkan sayap
Bermain ala burung-burunga camar
Hmmmmmmm……..
Dan kuterpesona

Lepaslah penatku
Jauhlah setengah problema



Hari Ini


Siang ini kujelang
Sepi,
Hanya musik-musik yang memenuhi seisi telinga

Siang ini
Sore akan segera hadir
Masih saja sepi,
Tak kulihat teriakan bocah
Yang biasanya setiap sore
Tak lepas dari teriakan mereka

Siang ini
Sore telah bersamaku
Yach, masih sepi
Seperti sebelumnya
Tak kudengar apapun
Hanya musik-musik
Yang berkumpul di telinga

Siang ini
Sore semakin berlalu
Sungguh masih sepi
Hanya musik-musik
Yang enggan jauh dari telinga
Kan tetap temaniku
Berdua bersama mesin ketik
Komputer ini.
(2905’09)



Asmaraku

Jauh sekali kumelangkah
Tapi enggan kuberhenti

Sepi,
Gelap,
Sepanjang langkahku
Tapi tak ada satupun yang memberiku seteguk air
Tuk lepaskan dahagaku dari langkah jauh
Yang ada mereka hanya menatapku terus
Membiarkanku menahan siksa diri

Masih sejauh inikah langkahku
Kenapa tak izinkanku tuk lepas letihku?

Melangkah seorang diri
Memang hampa
Lelah seorang diri
Memang menyiksa
(2207’09)



Maghrib

Senja berkabut
Selaksa kehampaan mengunci keheningan malam
Berkumandang irama adzan berseri-seri
Memberikan sambutan umat nun merdu

Senja tinggal sekerat daging
Namun menyisakan seutas peristiwa panjang
Telah dilewati bersama ribuan burung tiada mampir menilik satupun

Teriakan senja kian tak terdengar
Maghrib menggantikan hanyutnya sore tadi
Awan berlalu mengiringi senja
Beriringan sang bintang
Bulan mendampinginya
(2307’09)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Donkkkkk ;-D :