2705’06
Wah…..ada apa nich?, pagi-pagi kok udah rame?, lagi enak-enak tidur juga!. Tapi tiba-tiba mba Iin kakak perempuanku keluar dari kamar dan langsung bilang,”Ce!, tadi ada lindu (gempa)” dengan wajah yang terlihat begitu panik. Aku langsung berpikir apa iya sich? Tapi ketika aku rasakan……..wah, bener, gempa. Aku terkejut seketika, goncangannya cukup besar. Setelah aku tahu kalau itu gempa aku segera keluar, karena kudengar mas Ismail kakak pertamaku lagi adzan dengan didampingi oleh ibuku. Kakakku sudah biasa kalau ada peristiwa yang membuat panik orang seperti ada angin kencang, gempa ia pasti melantunkan adzan, karena untuk mengagungkan kebesaran sang khalik.
Lindu atau disebut juga gempa tersebut berlangsung pukul 06.10 WIB dan itu berlangsung tidak begitu lama paling sekitar 1 sampai 2 menit, tapi goncangannya itu lho yang menakutkan, lumayan besar goncangannya. Saat aku masuk kamar mandi, air di bak mandi masih bergerak, berarti masih ada sedikit pengaruh gempa.
Saat di sekolah, tepat pukul 08.10, menitnya sama lagi, terjadi gempa lagi. Ini sudah gempa yang kedua kalinya, tapi tidak begitu besar goncangannya dibanding yang pagi-pagi, ini hanya makan waktu kurang dari 1 menit.
Kupikir gempa yang sudah terjadi itu berasal dari gunung berapi yang siap meletus, tapi setelah dengerin berita di TV sore hari, ternyata di dalam laut terdapat lempeng laut yang sedikit mengalami patahan, kalau ga’ salah denger. Gempa tersebut juga menyebabkan porak-porandanya bangunan-bangunan besar maupun kecil, rumah maupun yang lain yang berada di wilayah Yogyakarta. Karena pusat gempa berada di Bantul, Yogyakarta. Padahal, kakakku di Kotagede, Yogyakarta yang berarti dekat Bantul dan kakakku yang berada di Yogya ada 2, mas Humam (kakak no.4) dan mas Sahid (kakak no.5) yang di Sleman, Yogyakarta. Alhamdulillah kedua kakakku tidak kenapa-kenapa dan sehat semuanya, karena waktu pagi mas Humam sms ke mba Iin, katanya seluruh rumah di wilayah Yogya hancur dan teman mas Humam yang di pondok banyak yang menjadi korban gempa tersebut, mereka tertindih atap bangunan pondok. Untuk teman mas Humam saya turut berdukacita dan semoga lekas sembuh yaa!?, mohon diterima doaku.
Di pondok mas Sahid juga terdapat beberapa korban gempa. Saya juga turut berdukacita dan semoga lekas sembuh juga. Mas Sahid dan mas Humam terus menghubungi keluarga di Kebumen, Kembaran khususnya.
Aku selalu mennonton berita yang berhubungan dengan gempa yang telah menimpa Yogya dan sekitarnya, entah apapun stasiun TVnya, asal aja. Dari hari ke hari korban yang berjatuhan terus bertambah. Pertama, korbannya mencapai 1500 korban jiwa, sehari kemudian bertambah menjadi 2750, sehari berikutnya menjadi 5000, dan semakin bertambah dari hari ke hari, kasihan mereka.
Saat malam Minggu, 28 Mei 2006 tepat pukul 07.00 lebih aku netesin airmata yang tak mungkin bisa aku bendung lagi. Karena, aku melihat berita di TV tentang gempa yang waktu itu seorang anak sekitar berusia 5 tahunan tertimbun reruntuhan bangunan. Aku saking ga’ kuatnya, baru sekali aku bisa netesin airmata waktu nonton berita tentang bencana gempa yang melanda kota Yogya. Padahal dulu waktu Aceh yang tsunami itu lho, aku samasekali ga’ bisa nangis tapi nangis batin doing. Tapi yang jelas kedua bencana itu membuat hatiku turut kesakitan. Tangisan itu kan aku jadikan sejarah dalam hatiku.
Untung pengiriman bantuan logistik untuk korban bencana gempa di Yogya berjalan dengan lancar, soalnya relawan di Yogya cukup banyak. Tapi, untuk para relawan hati-hati ya biar ga’ manfaatin yang kayak gini ni yaitu yang ngaku-ngaku korban bencana padahal bukan.
O iya, hampir lupa, kalau gempa ini menyebabkan magma di dalam gunung Merapi jadi terguncang, makanya lavanya jadi mercik-mercik keluar.
Sekali lagi, untuk korban gempa di Yogyakarta, saya turut berdukacita dan belasungkawa kepada yang telah meninggal. Mereka yang meninggal dunia semoga meninggal yang khusnul khotimah. Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Donkkkkk ;-D :