Jumat, Oktober 15, 2010

Saatku masih menjamah SD, sebelum kuberangkat sekolah, sambil kunikmati sarapan dan ibu selalu disampingku, kalian tahu apa yang beliau perbuat?. Ibu mengajakku untuk berhitung  dari penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian. Ketahuan deh kalau aku benar-benar lemah sekali dalam berhitung. Kalau kutak bisa menjawab Ibu gemas terhadapku dengan memarahiku dan selalu hampir serta  sempat buatku menangis, setelah itu beliau menyodorkan kertas putih yang sudah bertuliskan hitung-hitungan hanya perkalian dengan berpesan, "Hafalkan!." Semua usai, berpamitan kepada bapak kemudian kepada Ibu. selalu tak ketinggalan ibu memintaku untuk meminum air putih yang sudah ibu beri doa entahlah aku kurang tahu pasti. Manut saja, kumeminumnya, memang tak seperti air putih biasa, ini dingin dan tak kalah menyegarkan seperti es. Katanya minum air putih tersebut bisa berkah, amin.

Tidak bisa berhitung kata orang dan teman-temenku dulu itu kebodohan, memang itu sesuai denganku, bahkan tetanggaku sendiripun sering menyebutku, "Dasar anak bodoh," segitukah aku. Sang ibu mengharapkanku untuk bisa berhitung tapi apa daya, tidak ada perkembangan juga. Sampai akhirnya aku tinggal kelas atau tidak naik kelas di kelas 4 SD, bapak jatuh sakit, terbaring di tempat tidurnya. ibu memanggilku hendak menyampaikan sesuatu.

"Khuria, dah sekarang terserah kamu,ibu sudah tidak bisa lagi memaksamu untuk bisa lebih baik, waktu kamu kelas 2 SD ibu mempertahankan kamu untuk tetap naik kelas, tapi sekarang kamu harus terima kalau kamu tidak naik kelas, ibu kecewa, kenapa kamu tidak bisa-bisa?, ranking saja tidak pernah, kamu belajar sendiri atau sama kakak-kakakmu saja."
kuhanya diam terpaku makin lama makin menitikkan air mata karena terkejut dengan yang ibu sampaikan. aku tidak naik kelas dan masih jadi anak bodoh.

Setelah idul fitri 10 tahun yang lalu, ibu meninggalkanku untuk selamanya, sungguh amat sangat sedih, beliau meninggalkan ketika aku masih dalam keadaan berlumurkan kebodohan.
Lepas SD, kuberusaha untuk menjadi seperti yang ibu inginkan. Namun bukan belajar berhitung aku maksimalkan, tapi ingin jadi orang sukses. Alhasil berkat gemblengan ibu, masa SMP aku mampu untuk peroleh ranking 1,2,3 hingga ku beranjak SMA.
Ibu sungguh luar biasa, semoga ibu bisa tersenyum disana' bahwa aku bisa berhasil seperti yang ibu inginkan dahulu walau hanya sebatas yang aku mampu. Setiap pengambilan raport, kubuka halaman yang mencantumkan ranking selalu buatku tersenyum dan berkata dalam hati, "Ibu, inilah yang kau inginkan, bahwa aku bisa berhasil, semoga ibu tersenyum di alam sana, terimaksih."

My mother is my hero, ibu adalah  pahlawan kehidupanku. Beliau yang selalu memaksaku untuk berusaha untuk bisa jadi yang terbaik, berusaha untuk lepas dari bodoh. Kini ku sudah bisa melanjutkan kuliah mengambil jurusan akuntansi, yang ternyata tidak jauh dari hitutng menghitung. Ingat berhitung berhitung ingat ibu, ingat ibu ingat berhitung, itulah yang selalu berkecamuk dalam pikiranku.
Tapi aku tahu, sesungguhnya yang ibu inginkan adalah bukan sepenuhnya bisa naik kelas, dapat ranking tertinggi dikelas, atau bisa matematika, tapi keberhasilan untuk lepas dari ketidakmampuan yang sesungguhnya mampu untuk lepas dari ketidakmampuan. Itulah yang ibu inginkan dan ibu sampaikan kepada kakak-kakakku yang kemudian disampaikan kepadaku.
Terimakasih ibu, kau sungguh lur biasa. Pahlawanku selamanya, Bahagialah disana. 

4 komentar:

  1. menyentuh sekali.....kata temenku setelah membuka tulisan didalam blog khuria
    tetep semangat saja
    kisah sendiri atauuuuuu orang lain ya?

    BalasHapus
  2. jangan lupa LPJnya segera diselesaikan. ingat, deadline kita sabtu harus selesai semua. oce???

    BalasHapus
  3. Bro bagus sekali.,,

    link exchange yuk,..
    http://isnahidaken.blogspot.com

    BalasHapus

Komentar Donkkkkk ;-D :