Rabu, Maret 10, 2004

DIMANA RUMAHKU?

Naskah Teater Oleh : Yaya Setia Khuria Sa’adah & Nur Khasanah

Tepi jalan raya nan ramai akan kendaraan bermotor, sepeda, becak, dan segala bentuk kendaraan yang bersliwer. Pohon-pohon rindang di di tepian jalan yang berada didepan gedung kampus samping gerbang masuknya. Menatap keadaan pohon yang tak lagi namapak hijau segar harus nampak hijau kusam oleh debu-debu yang menempel ditiap helai daunnya.

Pohon : Ini bukan musim gugur tapi daun-daun di rentetan tangan batangku kian berjatuhan. Tak menyangka sudah setinggi ini ku tegap di tepian jalan raya, penuh dengan kendaraan berasapkan hitam pekat…..uhuk uhuk uhuk (terbatuk-batuk) coba kalian lihat! Diriku sebuah pohon saja hingga terbatuk-batuk layaknya manusia yang menghirup asap kendaraan yang tiap menit bersliweran. Dan coba kalian tatap aku kembali sejenak…kotor sekali tubuhku, terutama bulu-bulu daun di setengah kujur tubuh pohonku ini…….huihhh! kotor! Asap-asap yang mereka muntahkan kearahku dan mereka-mereka layaknya sepertiku. Tapi, ku dan lainnya tak mereka hiraukan akanku. Daun-daunku semula hijau segar, kini tiada tampak. Berdebu, tak terurus.

Angin berhembus menggoyahkan batang-batang pohon nun tak lagi kokoh, daun-daun yang menguning siap lepas dari dahannya. Tangisan daun yang berguguran memecahkan suasana.

Sampah : “Oh…. Aku terjatuh! Kenapa aku harus terhempas ke jalanan? Harus kemana aku berlindung dari injak kaki para pejalan yang terus berlalu lalang. Dimana rumahku?”
Pohon : “Oh….daun..maafkan aku, aku yang tidak sanggup menahanmu untuk tetap bergantung di jemari ranting tubuh pohonku. Tetapi aku rasa itu juga bukan salahku, itu memang sudah semestinya harus terjadi. Telah habis masa aktifmu untuk berada dibawah naunganku. Telah habis masa baktiku untuk selalu mengalirkan air pohonku ke dalam sel-sel tubuh mungilmu. Harus ku gantikan kau dengan yang lain wahai kau daun-daun yang telah menguning.”

Seorang mahasiswa yang telah lelah setelah setengah hari mendengarkan dan memahami ilmu yang harus ia peroleh dari dosennya. Ia melangkah menuju ke arah sebuah pohon hendak berteduh dibawahnya yang terletak dipinggir jalan yang letaknya tak jauh dari arah menuju ke rumahnya, dia sudah memegang sebungkus makanan ringan dan sebotol air mineral yang telah ia beli di kantin kampusnya yang siap ia nikmati.

Mahasiswa : “Segelas air mineral dan sebungkus roti kunikmati dibawah rindangnya pohon, semilir angin siang nan terik ditambah aroma khas jalan raya penuh kepulan asap pekat dan berdebu. Kurasakan kenikmatan yang tak lagi disebut kenikmatan, sedikit mengganggu sejuknya irama indahnya pohon. Sudahlah, ku tak ingin lagi berlama-lama disini, tak berlumurkan aroma asap.”

Diam berdiri sejenak sambil melemparkan pandangan kearah sekeliling dengan masih memegang bungkusan sisa makanan dan air mineral yang juga seakan mencari sesuatu.

Mahasiswa : “Dari tadi tak kulihat satu tempat pun untuk kulemparkan bungkusan ini, kemana? Tak tahan lagi kupegangi bungkusan ini, aku kan bukan tempatnya…..(masih celingukan mencari-cari tempat sampah)…apa peduliku dan bungkusan ini, kan tak lagi bias kumakan.
Si mahasiswa tak menemukan satupun tempat sampah. Apa boleh buat ia lempar kearah pohon yang ada dibalik punggungnya yang tak jauh darinya.

Pohon : “Au! Teganya dirimu melempari aku dengan sampahmu itu! Tidak sopan!”

Sampah : “Ah… Sakit. Jahat sekali kau manusia. Sayangnya kuhanya bisa mengeluh dan mengeluh, sampai kapanpun takkan mengerti ungkapan nasib para korban perlemparan kearah sembarang seperti ini, malang benar nasibku si sampah tak berguna

Sampah :”Aku berharap suatu saat nanti manusia akan mengerti akan pentingnya lingkungan yang bersih. Karena suatu saat nanti mereka akan merasakan akibatnya jika terus-menerus memperlalukan aku seperti ini.”

Muncul percakapan kecil antara pohon dan korban pelemparan sembarangan (sampah) itu.

Sampah : “Hay engkau, Pohon…..apa tindakanmu setelah kau saksikan perilaku indah dari si mahasiswa itu?” (dengan ironis pada mahasiswa tersebut bertanya pada Pohon)

Pohon : “Entahlah, tak kuhiraukan saja, bertindak apapun pun tiada guna, diam saja, lakukan saja apa yang layaknya kita lakukan kita masing-masing……..tegap, terpaku, beri kesejukan aroma-aroma segar daun-daunku. Itu saja. Lalu kau? Si sampah yang kasihan dan memang seperti itulah kau?”


Sampah : “ikuti kau saja, aliran kata-katamu tadi kusepakati.”
Ungkapan alam
Alam bersimpuh
Alam merenung
Alam menerawang
Alam menangis

Kehadiran manusia semestinya memberi nuansa penyelamatan pada kami agar kami tak luapkan panah kehancuran kami pada mereka, manusia,. Tak semestinya kami lemparkan air bah, menggenang berubah banjir, longsor menutup tiang-tiang gubuk, penyakit yang tercipta. Tak ingin, tak ingin kami lanjutkan semua itu. Tapi itu semua karena kalian manusia, buatku gemas akan lemparkan panah-panah itu.

Alam bidikan panah genangan air karena tiada terima sampah tak terurai
Alam marah
Alam berubah mencekam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Donkkkkk ;-D :