Kamis, Maret 22, 2012

Terlambat

Keterlambatan dalam mengusahakan tugas pekerjaan rumah memaksa diri ini untuk menuntaskan semua itu......
Akhirnya waktu masih berpihak pada pekerjaan ini, hingga waktu dhuhur belum hadir. Lega rasanya yaaaach meskipun sedikit menyisakan kekesalan didiri ini karena tak pernah usai dengan tanpa melewati siang.

Kesegarab bersinggah diraga setelah sekian menit bercumbu basah dengan segarnya air sumur yang dialirkan ke keran kamar mandi.
Terima kasih terucap disudut bibir dan dikejauhan sang maha pencipta alam.
Celoteh bocah  5 tahun mengisi keheningan rumah, wajarlah jika rumah kumuh tetap memberikan keramaian dan tak pernah menyisakan sepi.

Suara tepukan palu dengan dinding-dinding kokoh yang digerakkan oleh si tukang bangunan dari desa sebelah memberikan tanda bawha ini belum usai, masih ada hitungan hari untuk menyelesaikan rumah agar sedikit nampak rapi dan ada warna.

Senin, Maret 12, 2012

Asseekkk

Temaram malam seakan senantiasa temani kehampaan saat bersinggah dibawah lampu 25 watt, suara tokek disudut gazebo belakang rumah, nyamuk-nyamuk yang sesekali mengusik keheningan.
Sesekali hati kelu untuk berbagi sajak dengan jemari tangan dan pena hitam, membuat kalimat-kalimat yang tersirat tak beraturan dan tak berarti namun malah tong sampah yang siap menampung, nasib....nasib...... Coba bantulah@!!!!!! Bingung hendak apa yang tertulis oleh jemari, kebimbangan menistakan keheningan diri yang menjadi tak berarti. bodohnya raga memilih suasana yang tidak pernah bersahabat dengan manis aroma malam. tak merasakah di sudut-sudut sawah para katak-keong-cacing tengah menertawakan diri ini yang hina yang masih saja berkeluh kesah dimalam-malam yang hening ini yang mestinya tak disambut dengan senyum bibir . 
Ngiri sekali, para binatang di lahan sawah organik sedang asyik berpesta menikmati padi-padi yang kian berisi.
Mulut kian tak ada arah dalam menancapkan kata demi kata dibuka usangku.
Tidak menarik tidak dilanjutkan.
Tidak adal lagi kalimat-kalimat menggelitikdan menggugah batin.
Percuma, pena menari-menari namun tak ada tepukan yang gagap gempita dari sudut-sudut bibir tak bertuan. Namun, tak apalah, selama ini dan hingga kini pena masih sudi untuk menari-nari diatas lantai buku dan buku masih mengisi ulang kertas-kertas kosong untuk panggung sang pena.
Pikiran masih menerima dan mentransfer kata demi kata untuk ditanam diatas lahan kertas.
Mereka tidak pernah meninggalkan raga ini dan senantiasa kan mendengarkan ketidakikhlasan hidup yang dihadapi dan memberikan dorongan untuk menemukan jawaban hidup serta memutuskan hidup apa yang akan ditapaki nantinya.
Awalnya memang tak ada arah dan alur yang tepat untuk mencetak sajak namun pendirian yang kan menuntun sedikit demi sedikit yang mengantarkan ke jalur yang tepat dan memiliki arti yang kan lebih berarti.
Ada banyak kehidupan yang selalu menatap diri, hanya saja kehidupan yang mana dan bagaimana yang kan dipilih.
Tak pernah terbayangkan kalau hidup yang tak baik dan bermotivasi yang mengintai raga.
Rasanya tak ingin bersua tetapi memaksa.
Tidak! Tidak! Tidak! Apalah artinya idup diri jika tiada ada manfaat dan guna untuk diri terutama.
Omong kosong namanya.